ENTOMOLOGI
Nyamuk Culex sp
Culex adalah genus nyamuk yang
berperan sebagai vector pada beberapa penyakit. Nyamuk ni termasuk ordo
dipteral, family culicidae dan sub family culicinae. Nyamuk Culex sp terdapat
pada daerah tropis dan sub tropis di seluruh dunia dalam garis lintang 35oLU
dan 35oLS, dengan ketinggian wilayah kurang dari 1000m diatas
permukaan laut.
1.1 Taksonomi
·
Kingdom :
Animal
·
Phylum :
Arthropoda
·
Family :
Culicidae
·
Kelas :Insecta
·
Ordo :
Dipthera
·
Sub family : Culicini
·
Genus :
Culex
·
Species :
Culex sp
·
Sub species :
o
Culex
annulirostris
o
Culex
antennatus
o
Culex
jenseni
o
Culex
pipiens
o
Culex
pusillus
o
Culex
guinguefasciatus
o
Culex
rajah
o
Culex
restuans
o
Culex
salinarius
o
Culex
tersalis
o
Culex
territans
o
Culex
theileri
o
Culex
tritaeniorhynchus
1.2 Morfologi nyamuk Culex sp
1.2.1 Telur Culex sp
Telur berwarna coklat, panjang dan
silinder, vertical pada permukaan air, tersementasi pada susunan 300 telur.
Panjangnya biasanya 3-4mm dan lebarnya 2-3mm. telur-telur Culex sp diletakkan
secara berderet-deret rapi seprti kait tanpa pelampung yang berbentuk
menyerupai peluru senapan
![]() |
1.2.2
Larva nyamuk Culex sp
Pada larva nyamuk culex sp mempunyai
siphon yang mengandung bulu-bulu siphon (siphonal tuft) dan pekten, sisir atau
comb dengan gigi-gigi sisir (comb teeth), segmen anal dengan pelana tertutup
dan tampak tergantung pada permukaan air.
Nyamuk Culex mempunyai 4
tingkatan atau instar sesuai dengan pertumbuhan larva tersebut, yaitu :
1. Larva
instar I, berukuran paling kecil yaitu 1 – 2 mm atau 1 – 2 hari setelah menetas.
Duri-duri (spinae) pada dada belum jelas dan corong pernafasan pada siphon
belum jelas.
2. Larva
instar II, berukuran 2,5 – 3,5 mm atau 2 – 3 hari setelah telur menetas. Duri-duri
belum jelas, corong kepala mulai menghitam.
3. Larva
instar III, berukuran 4 – 5 mm atau 3 – 4 hari setelah telur menetas. Duri-duri
dada mulai jelas dan corong pernafasan berwarna coklat kehitaman.
4. Larva
IV, berukuran paling besar yaitu 5 – 6 mm atau 4 – 6 hari setelah telur menetas,
dengan warna kepala.
![]() |
|||||||
![]() |
|||||||
![]() |
|||||||
![]() |
|||||||
1.2.3 Pupa nyamuk Culex sp
Tubuh pupa berbentuk bengkok dan
kepalanya besar. Pupa membutuhkan waktu 2-5 hari. Pupa tidak makan apapun.
Sebagian kecil tubuh pupa kontak dengan permukaan air, berbentuk terompet
panjang dan ramping, setelah 1 – 2 hari akan menjadi nyamuk Culex.
![]() |
|||
![]() |
|||

![]() |
2

1.2.4 Nyamuk dewasa
Ciri-ciri nyamuk Culex dewasa
adalah berwarna hitam belang-belang putih, kepala berwarna hitam dengan putih pada ujungnya.
Pada bagian thorak terdapat 2 garis putih berbentuk kurva. Palpus nyamuk betina
lebih pendek dari proboscis, sedagkan pada nyamuk jantan palpus dan proboscis
sama panjang. Pada sayap mempunyai bulu yang simetris dan tanpa costa. Sisik
sayap membentuk kelompok sisik berwarna putih dan kuning atau putih dan coklat
juga putih dan hitam. Ujung abdomen nyamuk culex selalu menumpul.
![]() |
![]() |
1.3
Siklus hidup Culex sp
- Telur
Seekor
nyamuk betina mampu meletakan 100-400 butir telur. Setiap spesies nyamuk
mempunyai kebiasaan yang berbeda-beda. Nyamuk Culex sp meletakan
telurnya diatas permukaan air secara bergelombolan dan bersatu membentuk rakit
sehingga mampu untuk mengapung.
- Larva
Setelah
kontak dengan air, telur akan menetas dalam waktu 2-3 hari. Pertumbuhan dan
perkembangan larva dipengaruhi oleh faktor temperature, tempat perindukan dan
ada tidaknya hewan predator. Pada kondisi optimum waktu yang dibutuhkan mulai
dari penetasan sampai dewasa kurang lebih 5 hari.
c.
Pupa
Pupa
merupakan stadium terakhir dari nyamuk yang berada di dalam air, pada stadium
ini tidak memerlukan makanan dan terjadi pembentukan sayap hingga dapat
terbang, stadium kepompong memakan waktu lebih kurang satu sampai dua hari.
Pada fase ini nyamuk membutuhkan 2-5 hari untuk menjadi nyamuk, dan selama fase
ini pupa tidak akan makan apapun dan akan keluar dari larva menjadi nyamuk yang
dapat terbang dan keluar dari air.
d.
Dewasa
Setelah muncul dari pupa nyamuk
jantan dan betina akan kawin dan nyamuk betina yang sudah dibuahi akan
menghisap darah waktu 24-36 jam.
![]() |
|||
![]() |
1.4
Penyakit yang ditimbulkan nyamuk Culex sp
1.
Filariasis
Filariasis
atau penyakit kaki gajah adalah penyakit menular yang disebabkan oleh cacing
Filaria yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk seperti Anopheles, Culex, Mansonia,
Aedes dan Armigeres. Penyakit ini bersifat menahun (kronis) dan bila tak
mendapatkan pengobatan dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki,
lengan, dan alat kelamin baik perempuan maupun laki-laki.
· Cara penularan
Penderita awalnya
digigit nyamuk yang sudah "terkontaminasi" larva stadium III. Siklus
penularan penyakit kaki gajah melalui dua tahap. Pertama, tahap perkembangan
dalam tubuh nyamuk. Kedua, tahap perkembangan dalam tubuh manusia.
·
Gejala
Demam selama 3 5 hari, pembengkakan kelenjar getah bening, panas dan sakit terasa menjalar dari pangkal kaki atau pangkal lengan.
Demam selama 3 5 hari, pembengkakan kelenjar getah bening, panas dan sakit terasa menjalar dari pangkal kaki atau pangkal lengan.
·
Pengobatan
Dititik beratkan untuk mencegah kecacatan dan mengurangi sakit.
Dititik beratkan untuk mencegah kecacatan dan mengurangi sakit.
2.
West Nile Virus
Virus
Nil Barat (west nile virus/WNV) termasuk arbovirus yang ditularkan nyamuk. Tiga
faktor utama kemunculan WNV adalah perubahan iklim, populasi burung yang
terinfeksi dan penyebaran populasi nyamuk, khususnya nyamuk culex.
·
Cara
penularan
Pada awalnya virus tersebut hidup pada tubuh burung. Dari burung lalu "disebarluaskan" oleh nyamuk. Virus ini dapat menimbulkan penyakit bagi manusia dan sejumlah mamalia.
Pada awalnya virus tersebut hidup pada tubuh burung. Dari burung lalu "disebarluaskan" oleh nyamuk. Virus ini dapat menimbulkan penyakit bagi manusia dan sejumlah mamalia.
·
Gejala
Saat terinfeksi WNV tidak terlihat gejala-gejala tertentu kecuali seperti orang terkena flu. Namun akibatnya bisa sangat serius termasuk encephalitis (radang otak).
Saat terinfeksi WNV tidak terlihat gejala-gejala tertentu kecuali seperti orang terkena flu. Namun akibatnya bisa sangat serius termasuk encephalitis (radang otak).
·
Pengobatan
Sejauh ini belum ada pengobatan khusus atau vaksin untuk mengatasi infeksi WNV.
Sejauh ini belum ada pengobatan khusus atau vaksin untuk mengatasi infeksi WNV.
3. Japanese
Encephalitis
Japanese Encephalitis
adalah penyakit yang disebabkan oleh virus. Virus ini disebarkan melalui
gigitan nyamuk Culex.
·
Cara
penularan
Awalnya virus Japanese Encephalitis berkembang biak dalam tubuh babi. Lalu, nyamuk betina Culex mengisap darah babi dan menularkan virus ini saat menggigit manusia.
Awalnya virus Japanese Encephalitis berkembang biak dalam tubuh babi. Lalu, nyamuk betina Culex mengisap darah babi dan menularkan virus ini saat menggigit manusia.
·
Gejala
Demam, sakit kepala, lemah, mengingau, mengantuk, lumpuh, bahkan pingsan
Demam, sakit kepala, lemah, mengingau, mengantuk, lumpuh, bahkan pingsan
1.4 Pengendalian nyamuk Culex sp
Secara garis besar ada
2 cara pengendalian vector, yaitu :
1.
Pengendalian secara kimiawi biasanya digunakan insektisida dari golongan
orghanochlorine, organophosphor, carbamate dan pyrethoid. Bahan-bahan tersebut
dapat diaplikasikan dalam bentuk penyemprotan terhadap rumahrumah penduduk.
2.
Pengendalian lingkungan digunakan beberapa cara antara lain dengan mencegah nyamuk
kontak dengan manusia yaitu dengan memasang kawat kasa pada lubang ventilasi,
jendela dan pintu. Cara yang lain yaitu dengan gerakan 3M “Plus” yaitu:
a.
Menguras tempat-tempat penampungan air,
b.
menutup rapat tempat penampungan air,
c.
menimbun barang-barang bekas atau sampah
yang dapat menampung air hujan dalam tanah.
d.
“Plus” menabur bubuk pembasmi jentik (larvasida),
memelihara ikan pemakan jentik di tempat penampungan air dan pemasangan
kelambu.
1.5
Distribusi geografik
Nyamuk Culex sp terdapat pada daerah tropis dan sub
tropis di seluruh dunia dalam garis lintang 35oLU dan 35oLS,
dengan ketinggian wilayah kurang dari 1000m diatas permukaan laut. Nyamuk
dewasa merupakan ukuran paling tepat untuk memprediksi potensi penularan
arbovirus. Larva dapat di temukan dalam air yang mengandung tinggi pencemaran
organik dan dekat dengan tempat tinggal manusia. Betina siap memasuki
rumah-rumah di malam hari dan menggigit manusia dalam preferensi untuk mamalia
lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar