Jumat, 06 Desember 2013

Makalah Clonorchis Sinensis Trematoda Hati


TREMATODA HATI
Clonorchis sinensis

A.    Morfologi Clonorchis sinensis
Cacing dewasa berbentuk cacing pipih  memanjang, transparan dan bagian posterior membulat. Memiliki ukuran 10-25 x 3-5 mm dengan integument tidak berduri, batil isap kepala sedikit lebih besar dibandingkan batil isap perut dan terletak pada 1/3 anterior tubuh. Gambaran khas pada besar dan dalamnya lekuk lobus/cabang testis, dengan cabang ke lateral. Letak testis berurutan, sebelah posterior dari ovarium yang lebih kecil dan juga berlobus. Ovarium ini terletak digaris tengah, pada  pertemuan 1/3 posterior dan 1/3 tengah tubuh, uterus tampak berkelok-kelok, bermuara pada porus genitalis berdampingan dengan muara alat kelamin jantan.
Organ reproduksi trematoda komplex dan daur hidup biasanya melibatkan beberapa tuan rumah yang berbeda, yang berakibat dalam penambahan kekuatan dari reproduksi. Reproduksi dari sebagian besar keturunan diperlukan dalam hewan parasit kerena kesempatan suatu individual akan mencapai tuan rumah baru agak enteng. Sebagian besar trematoda hermaphrodit. Telur dari satu cacing mungkin dibuahi oleh spermatozoa dari cacing yang sama, dengan fertilisasi silang dapat terjadi. Larva yang ditetaskan dari telur trematoda ectoparasitic adalah berupa cilia dan berenang kira-kira sampai mereka melekatkan diri ke tuan rumah yang baru. Trematoda endoparasitic biasanya terlewati melalui daur hidup terkomplikasi seperti pada cacing hati.
Telur berbentuk oval dengan ukuran 28-35 x 12-19 ┬Ám, ukuran dinding sedang, memiliki operculum konveks, bagian posterior menebal. Telur diletakkan dalam saluran empedu dalam keadaan sudah matang  kemudian keluar bersama tinja dan baru menetas apabila ditelan oleh hospes perantara I. telur dalam tinja dapat bertahan selama 2 hari pada suhu 26C dan 5 hari pada suhu 4-8C. dalam hospes perantara I miracidium berubah menjadi sporokista, redia dan serkaria. Serkaria memiliki kelenjar penetrasi pada bagian kepala untuk menembus ikan tempat akan membentuk metaserkaria dalam otot atau kulit ikan tersebut. Perkembangan dalam tubuh ikan berlangsung selama 23 hari. Jika daging ikan yang mengandung cacing tersebut (“kista”) dimasak kurang sempurna, jika dimakan hospes maka di dalam duodenum, larva keluar dari “kista” masuk ke saluran empedu sebelah distal dan cabang-cabangnya melalui ampula vateri. Untuk menjadi cacing dewasa diperlukan waktu satu bulan, sedangkan seluruh siklus diperlukan sekitar 3 bulan.
Gambar. Morfologi cacing Clonorchis sinensis
 








Gambar. Morfologi telur cacing Clonorchis sinensis

B.     Siklus hidup Clonorchis sinensis
Cara penularan dan Manusia terinfeksi karena memakan ikan air-tawar contoh makanan yang mentah atau kurang matang yang mengandung terlibat dalam KLB larva berbentuk kista (metaserkaria). Pada saat dicerna, larva cacing akan terbebas dari dalam kista dan bermigrasi melalui duktus koledokus ke dalam percabangan empedu. Telur yang terletak dalam saluran empedu diekskresikan ke dalam tinja. Telur dalam tinja mengandung mirasidium yang sudah berkembang lengkap. Kalau telur ini dimakan oleh siput yang rentan, telur akan menetas dalam usus siput, menembus jaringan tubuhnya dan secara aseksual menghasilkan larva (serkaria) yang bermigrasi ke dalam air. Jika mengenai pejamu perantara yang kedua, serkaria akan menembus tubuh pejamu dan membentuk kista, biasanya dalam otot dan terkadang di bawah sisik. Siklus hidup cacing klonorkis yang lengkap mulai dari siput, ikan sampai manusia memerlukan waktu sedikitnya 3 bulan.
Ikan yang mengandung metaserkaria akan termakan oleh manusia jika ikan tersebut tidak dimasak dengan matang. Metaserkaria dalam bentuk kista masuk ke dalam system pencernaan, kemudian berpindah ke hati melalui saluran empedu dan tumbuh menjadi cacing dewasa.
Masa inkubasi Tidak bisa diperkirakan, masa inkubasi bervariasi menurut jumlah cacing yang ada. Gejala dimulai dengan masuknya cacing yang imatur ke dalam sistem empedu dalam waktu satu bulan sesudah larva yang berbentuk kista (metaserkaria) termakan oleh pasien. Gejala-gejala gangguan rasa nyaman pada abdomen kuadran kanan atas dengan awitan yang bertahap, anoreksia, gangguan pencernaan, nyeri atau distensi abdomen dan buang air besar yang tidak teratur.
Gambar siklus hidup cacing Clonorchis sinensis
 













C.    Penyebaran geografis Clonorchis sinensis
Daerah endemis adalah Asia termasuk Korea, China, Taiwan, dan Vietnam. Clonorchiasis juga dilaporkan terjadi di Negara nonendemis(Amerika Serikat). Kasus infeksi terjadi pada imigran  atau memakan ikan segar mentah yang mengandung metaserkaria . Diorient, tetapi tidak terdapat di Western Hemisphere. Reservoir atau sumber Siput merupakan pejamu perantara yang pertama. Sekitar 40 spesies ikan sungai berperan sebagai pejamu perantara sekunder. Manusia, anjing, kucing dan banyak spesies mamalia pemakan-ikan yang lain merupakan pejamu akhir.


D.    Patologi dan gejala klinik Clonorchis sinensis
Perubahan patologi terutama terjadi pada sel epitel saluran empedu. Pengaruhnya terutama bergantung pada jumlah cacing dan lamanya menginfeksi, untungnya jumlah cacing yang menginfeksi biasanya sedikit. Pada daerah endemik jumlah cacing yang pernah ditemukan sekitar 20-200 ekor cacing. Infeksi kronis pada saluran empedu menyebabkan terjadinya penebalan epithel empedu sehingga dapat menyumbat saluran empedu. Pembentukan kantong-kantong pada saluran empedu dalam hati dan jaringan parenchym hati dapat merusak sel sekitarnya. Adanya infiltrasi telur cacing yang kemudian dikelilingi jaringan ikat menyebabkan penurunan fungsi hati.
Gejala asites sering ditemukan pada kasus yang berat, tetapi apakah ada hubungannya antara infeksi C. sinensis dengan asites ini masih belum dapat dipastikan. Gejala joundice (penyakit kuning) dapat terjadi, tetapi persentasinya masih rendah, hal ini mungkin disebabkan oleh obstruksi saluran empedu oleh telur cacing. Kejadian kanker hati sering dilaporkan di Jepang, hal ini perlu penelitioan lebih jauh apakah ada hubungannya dengan penyakit Clonorchiasis.
Cacing ini menyebabkan iritasi pd saluran empedu dan penebalan dinding saluran dan perubahan jaringan hati yang berupa radang sel hati.Gejala dibagi 3 stadium:
1.      Stadium ringan tidak ada gejala.
2.      Stadium progresif ditandai dengan menurunnya nafsu makan, diare, edema, dan pembesaran hati.
3.      Stadium lanjut didapatkan sindrom hipertensi portal terdiri dari pembesaran hati, edema, dan kadang-kadang menimbulkan keganasan dlm hati, dapat menyebabkan kematian.

E.     Diagnosa laboratorium Clonorchis sinensis
Diagnosa didasarkan pada isolasi feses telur Clonoschis sinensis bersama dengan adanya tanda-tanda pankreatitis atau primary. Beberapa kucing mungkin menunjukkan penyakit kuning dalam kasus-kasus lanjutan dengan parasit beban berat. Sejumlah cacing hati lain yang mempengaruhi kucing, seperti viverrini Opisthorchis , dan felineus Opisthorchis , dapat dibedakan dengan pemeriksaan miscoscopic atau yang lebih baru tes PCR.



F.     Pengobatan penyakit Clonorchiasis
Dapat diberikan klorokuin difosfat dosis 250 mg 3 kali sehari selama 6 minggu. Pengobatan ini sering gagal disertai optic neuropati, sehingga perlu dicari obat lain yang lebih baik. Praziquantel lebih efektif dan lebih aman.

G.    Pencegahan penyakit Clonorchiasis
Mengurangi sumber infeksi dengan melakukan pengobatan pada penderita. Menghindarkan penularan melalui ikan dengan  memasak sempurna, pengasinan, pendinginan atau pemberian cuka bagi ikan yang akan dimakan, selain itu diperlukan pendidikan yang berhubungan dengan sanitasi.
Pencegahan penularan cacing Clonorchis sinensis pada manusia juga dapat dilakukan dengan cara memutus rantai hidup cacing ini, meliputi :
1.       Tindakan pengendalian Industri; pembuangan ekskreta dan air limbah atau khusus kotor yang aman untuk mencegah kontaminasi pada air sungai, pengolahan air limbah untuk keperluan akua kultur, iradiasi ikan air tawar, pembekuan dingin, perlakuan panas, misalnya pengalengan.
2.      Tempat pengelolaan makanan/rumah tangga; memasak ikan air tawar sampai benar-benar matang. Konsumen harus menghindari konsumsi ikan air tawar yang mentah atau kurang matang.