Selasa, 10 Desember 2013

Trematoda Opistorchis Viverini Dan Opistorchis Felineus


 Opisthorchis viverrini

A.    Morfologi
·         Habitat : saluran empedu dan saluran pankreas.
·         Ukuran :7 – 12 mm
·         Batil isap mulut > batil isap perut
·         Telur : mirip telur Clonorchis sinensis, tapi lebih langsing
·         Cara infeksi : makan ikan yang mengandung  metaserkaria yg dimasak kurang matang.
·         Hospes                  : manusia.
·         Reservoir               : kucing dan anjing.
·         Penyakit                : opistokiasis

B.     Siklus Hidup
Siklus hidup dari Opisthorchis viverrini mirip dengan Opistorchis felinus hanya berada dalam ukuran yang lebih besar. Infeksi terjadi dengan makan ikan mentah yang mengandung metaserkia. Di daerah Muangthai timur laut ditemukan banyak penderita kolangiokarsinoma dan hepatoma pada penderita  opistorkiasis. Hal ini juga karena ada peradangan kronik saluran empedu dan selain itu berhubungan dengan cara pengawetan ikan yang menjadi hospes perantara Opistorchis viverrini.

C.    Penyebaran Geografis
Penyebaran geografis thematoda Opisthorchis viverrini ini tersebar daerah Asia Tenggara  dan Thailand,Vietnam,Camboja sebagai daerah endemi.

D.    Gejala Klinis
Cacing dalam jumblah sedikit tidak akan menimbulkan gejala,kadang-kadang timbul gejala berupa diare,kurang nafsu makan,perut kembung/dyspepsia,nyeri perut di bagian atas kanan,anoreksia,mual,muntah,demam tinggi.Perasaan tidak enak di epigastrium,nyeri di kuadran kanan atas dapat juga timbul disertai hepatomegali,ikterus,suhu naik 38,5°C.Selanjutnya jika jumblah telur mencapai 10-50 butir per mg tinja,penyakit berat dan jika lebih dari 50 butir,penyakit sangat berat.
E.     Diagnosis
Dasarnya dengan menemukan telur dalam tinja atau dari drainase duodenum.

F.     Pengobatan
Cukup baik dengan pemberian obat klorokuin.
Praziquantel                      : 25 mg/kg BB dalam tiga kali sehari.
Efek samping                    : mual,muntah,sakit kepala,rasa tidak nyaman pada perut.
Health education                : tidak memakan ikan yang tidak dimasak sampurna untuk mencegah infeksi ulang.

G.    Pencegahan
Pencegahan penularan cacing Clonorchis sinensis pada manusia juga dapat dilakukan dengan cara memutus rantai hidup cacing ini, meliputi :
1.       Tindakan pengendalian Industri; pembuangan ekskreta dan air limbah atau khusus kotor yang aman untuk mencegah kontaminasi pada air sungai, pengolahan air limbah untuk keperluan akua kultur, iradiasi ikan air tawar, pembekuan dingin, perlakuan panas, misalnya pengalengan.
2.      Tempat pengelolaan makanan/rumah tangga; memasak ikan air tawar sampai benar-benar matang. Konsumen harus menghindari konsumsi ikan air tawar yang mentah atau kurang matang.



 Opistorchis felineus

A.    Morfologi cacing Opistorchis felineus
·         Klasifikasi
Kelas         : Trematoda
Ordo          : Prosostomata
Famili        : Opistorchoidae
Genus        : Opistorchis
Species      : Opistorchis felineus
            Cacing hati kucing Opistorchis felineus berfamili dekat dengan Clonorchis sinensis. Juga mengenai siklus hidupnya pada keong air sebagai hospes perantara pertama dan ikan air tawar sebagai hospes perantara kedua (hospes pembantu), yakni kebanyakannya keong jenis Bitthynia leachi dan ikan mas (Cyniprus carpio family Cyprinidae). Daerah penyebarannya hamper bersamaan dengan Clonorchis sinensis terbatas pada sungai dan danau tertentu. Daerah yang terkenal sebagai sumbernya ialah daerah teluk laut timur, sepanjang Weichel,provinsi baltik di daerah donau di Rusia terutama di Siberia utar, Japang, India.Cacing ini sesuai dengan namanya sering berparasit pada kucing, tetapi berkembang juga pada manusia, anjing, dan beberapa hewan pemakan ikan seperti anjing laut.
            Cacing ini berukuran 8 – 12 mm, berbentuk cacing pipih  memanjang, transparan dan bagian posterior membulat. Dengan integument tidak berduri, batil isap kepala sedikit lebih besar dibandingkan batil isap perut dan terletak pada 1/3 anterior tubuh. Perbedaan dengan cacing Clonorchis sinensis yaitu pada testis yang seperti sobekan kain (perca) yag juga terletak di seperempat bagian badan belakang. Telur cacing Opistorchis felineus lebih ramping erukuran 30 x 12 µ dan operculum yang lebih jelas dari telur Clonorchis sinensis

B.     Siklus hidup Opistorchis felineus
Manusia terinfeksi karena memakan ikan air-tawar contoh makanan yang mentah atau kurang matang yang mengandung terlibat dalam KLB larva berbentuk kista (metaserkaria). Pada saat dicerna, larva cacing akan terbebas dari dalam kista dan bermigrasi melalui duktus koledokus ke dalam percabangan empedu. Telur yang terletak dalam saluran empedu diekskresikan ke dalam tinja. Telur dalam tinja mengandung mirasidium yang sudah berkembang lengkap. Kalau telur ini dimakan oleh siput yang rentan, telur akan menetas dalam usus siput, menembus jaringan tubuhnya dan secara aseksual menghasilkan larva (serkaria) yang bermigrasi ke dalam air. Jika mengenai pejamu perantara yang kedua, serkaria akan menembus tubuh pejamu dan membentuk kista, biasanya dalam otot dan terkadang di bawah sisik. Siklus hidup cacing Opistorchis yang lengkap mulai dari siput, ikan sampai manusia memerlukan waktu sedikitnya 3 bulan.
Ikan yang mengandung metaserkaria akan termakan oleh manusia jika ikan tersebut tidak dimasak dengan matang. Metaserkaria dalam bentuk kista masuk ke dalam system pencernaan, kemudian berpindah ke hati melalui saluran empedu dan tumbuh menjadi cacing dewasa.
Cacing dewasa juga dihidup dalam saluran emped, jarang ditemukan dalam pangkreas. Prepaten terletak antara 3 – 4 minggu. Kerusakan karena cicing ini tergantung pada beratnya infeksi. Beberapa cacing umumnya tidak mengalami gejala, tetapi dapat juga menimbulkan pembesaran hati, pembengkakan saluran dan kandung empedu. Pada infeksi kronis kadang-kadang menyebabkan karsinoma saluran empedu dan pangkreas.

C.    Penyebaran geografis cacing Opistorchis felineus
Ditemukan di Eropa Tengah, Siberia dan Jepang. Parasit ini ditemukan pada Prusia, Polandia dan Siberia ditemukan di Jepang yang bukan daerah endemik Clonorchiasis. Kasus infeksi terjadi pada imigran  atau memakan ikan segar mentah yang mengandung metaserkaria.

D.    Patologi dan gejala klinis cacing Opistorchis felineus
Patologi dan gejala klinis cacing Opistorchis felineus yaitu cacing Opistorchis felineus umumnya tidak mengalami gejala, tetapi dapat juga menimbulkan pembesaran hati, pembengkakan saluran dan kandung empedu. Pada infeksi kronis kadang-kadang menyebabkan karsinoma saluran empedu dan pangkreas. Pada daerah endemik jumlah cacing yang pernah ditemukan sekitar 20-200 ekor cacing. Infeksi kronis pada saluran empedu menyebabkan terjadinya penebalan epithel empedu sehingga dapat menyumbat saluran empedu. Pembentukan kantong-kantong pada saluran empedu dalam hati dan jaringan parenchym hati dapat merusak sel sekitarnya. Adanya infiltrasi telur cacing yang kemudian dikelilingi jaringan ikat menyebabkan penurunan fungsi hati.
E.     Diagnosa laboratorium Opitorchis felineus 
Diagnosa didasarkan pada isolasi feses telur Opitorchis felineus bersama dengan adanya tanda-tanda pankreatitis atau primary. Beberapa kucing mungkin menunjukkan penyakit kuning dalam kasus-kasus lanjutan dengan parasit beban berat. Sejumlah cacing hati lain yang mempengaruhi kucing, seperti viverrini Opisthorchis , dan Clonorchis sinensis , dapat dibedakan dengan pemeriksaan miscoscopic atau yang lebih baru tes PCR.

F.     Pengobatan penyakit Opitorchis felineus 
Dapat diberikan klorokuin difosfat dosis 250 mg 3 kali sehari selama 6 minggu. Pengobatan ini sering gagal disertai optic neuropati, sehingga perlu dicari obat lain yang lebih baik. Praziquantel lebih efektif dan lebih aman.

G.    Pencegahan penyakit Opitorchis felineus 
Mengurangi sumber infeksi dengan melakukan pengobatan pada penderita. Menghindarkan penularan melalui ikan dengan  memasak sempurna, pengasinan, pendinginan atau pemberian cuka bagi ikan yang akan dimakan, selain itu diperlukan pendidikan yang berhubungan dengan sanitasi.
Pencegahan penularan cacing Opitorchis felineus  pada manusia juga dapat dilakukan dengan cara memutus rantai hidup cacing ini, meliputi :
1.       Tindakan pengendalian Industri; pembuangan ekskreta dan air limbah atau khusus kotor yang aman untuk mencegah kontaminasi pada air sungai, pengolahan air limbah untuk keperluan akua kultur, iradiasi ikan air tawar, pembekuan dingin, perlakuan panas, misalnya pengalengan.
2.      Tempat pengelolaan makanan/rumah tangga; memasak ikan air tawar sampai benar-benar matang. Konsumen harus menghindari konsumsi ikan air tawar yang mentah atau kurang matang.



Jumat, 06 Desember 2013

Makalah Clonorchis Sinensis Trematoda Hati


TREMATODA HATI
Clonorchis sinensis

A.    Morfologi Clonorchis sinensis
Cacing dewasa berbentuk cacing pipih  memanjang, transparan dan bagian posterior membulat. Memiliki ukuran 10-25 x 3-5 mm dengan integument tidak berduri, batil isap kepala sedikit lebih besar dibandingkan batil isap perut dan terletak pada 1/3 anterior tubuh. Gambaran khas pada besar dan dalamnya lekuk lobus/cabang testis, dengan cabang ke lateral. Letak testis berurutan, sebelah posterior dari ovarium yang lebih kecil dan juga berlobus. Ovarium ini terletak digaris tengah, pada  pertemuan 1/3 posterior dan 1/3 tengah tubuh, uterus tampak berkelok-kelok, bermuara pada porus genitalis berdampingan dengan muara alat kelamin jantan.
Organ reproduksi trematoda komplex dan daur hidup biasanya melibatkan beberapa tuan rumah yang berbeda, yang berakibat dalam penambahan kekuatan dari reproduksi. Reproduksi dari sebagian besar keturunan diperlukan dalam hewan parasit kerena kesempatan suatu individual akan mencapai tuan rumah baru agak enteng. Sebagian besar trematoda hermaphrodit. Telur dari satu cacing mungkin dibuahi oleh spermatozoa dari cacing yang sama, dengan fertilisasi silang dapat terjadi. Larva yang ditetaskan dari telur trematoda ectoparasitic adalah berupa cilia dan berenang kira-kira sampai mereka melekatkan diri ke tuan rumah yang baru. Trematoda endoparasitic biasanya terlewati melalui daur hidup terkomplikasi seperti pada cacing hati.
Telur berbentuk oval dengan ukuran 28-35 x 12-19 µm, ukuran dinding sedang, memiliki operculum konveks, bagian posterior menebal. Telur diletakkan dalam saluran empedu dalam keadaan sudah matang  kemudian keluar bersama tinja dan baru menetas apabila ditelan oleh hospes perantara I. telur dalam tinja dapat bertahan selama 2 hari pada suhu 26C dan 5 hari pada suhu 4-8C. dalam hospes perantara I miracidium berubah menjadi sporokista, redia dan serkaria. Serkaria memiliki kelenjar penetrasi pada bagian kepala untuk menembus ikan tempat akan membentuk metaserkaria dalam otot atau kulit ikan tersebut. Perkembangan dalam tubuh ikan berlangsung selama 23 hari. Jika daging ikan yang mengandung cacing tersebut (“kista”) dimasak kurang sempurna, jika dimakan hospes maka di dalam duodenum, larva keluar dari “kista” masuk ke saluran empedu sebelah distal dan cabang-cabangnya melalui ampula vateri. Untuk menjadi cacing dewasa diperlukan waktu satu bulan, sedangkan seluruh siklus diperlukan sekitar 3 bulan.
Gambar. Morfologi cacing Clonorchis sinensis
 








Gambar. Morfologi telur cacing Clonorchis sinensis

B.     Siklus hidup Clonorchis sinensis
Cara penularan dan Manusia terinfeksi karena memakan ikan air-tawar contoh makanan yang mentah atau kurang matang yang mengandung terlibat dalam KLB larva berbentuk kista (metaserkaria). Pada saat dicerna, larva cacing akan terbebas dari dalam kista dan bermigrasi melalui duktus koledokus ke dalam percabangan empedu. Telur yang terletak dalam saluran empedu diekskresikan ke dalam tinja. Telur dalam tinja mengandung mirasidium yang sudah berkembang lengkap. Kalau telur ini dimakan oleh siput yang rentan, telur akan menetas dalam usus siput, menembus jaringan tubuhnya dan secara aseksual menghasilkan larva (serkaria) yang bermigrasi ke dalam air. Jika mengenai pejamu perantara yang kedua, serkaria akan menembus tubuh pejamu dan membentuk kista, biasanya dalam otot dan terkadang di bawah sisik. Siklus hidup cacing klonorkis yang lengkap mulai dari siput, ikan sampai manusia memerlukan waktu sedikitnya 3 bulan.
Ikan yang mengandung metaserkaria akan termakan oleh manusia jika ikan tersebut tidak dimasak dengan matang. Metaserkaria dalam bentuk kista masuk ke dalam system pencernaan, kemudian berpindah ke hati melalui saluran empedu dan tumbuh menjadi cacing dewasa.
Masa inkubasi Tidak bisa diperkirakan, masa inkubasi bervariasi menurut jumlah cacing yang ada. Gejala dimulai dengan masuknya cacing yang imatur ke dalam sistem empedu dalam waktu satu bulan sesudah larva yang berbentuk kista (metaserkaria) termakan oleh pasien. Gejala-gejala gangguan rasa nyaman pada abdomen kuadran kanan atas dengan awitan yang bertahap, anoreksia, gangguan pencernaan, nyeri atau distensi abdomen dan buang air besar yang tidak teratur.
Gambar siklus hidup cacing Clonorchis sinensis
 













C.    Penyebaran geografis Clonorchis sinensis
Daerah endemis adalah Asia termasuk Korea, China, Taiwan, dan Vietnam. Clonorchiasis juga dilaporkan terjadi di Negara nonendemis(Amerika Serikat). Kasus infeksi terjadi pada imigran  atau memakan ikan segar mentah yang mengandung metaserkaria . Diorient, tetapi tidak terdapat di Western Hemisphere. Reservoir atau sumber Siput merupakan pejamu perantara yang pertama. Sekitar 40 spesies ikan sungai berperan sebagai pejamu perantara sekunder. Manusia, anjing, kucing dan banyak spesies mamalia pemakan-ikan yang lain merupakan pejamu akhir.


D.    Patologi dan gejala klinik Clonorchis sinensis
Perubahan patologi terutama terjadi pada sel epitel saluran empedu. Pengaruhnya terutama bergantung pada jumlah cacing dan lamanya menginfeksi, untungnya jumlah cacing yang menginfeksi biasanya sedikit. Pada daerah endemik jumlah cacing yang pernah ditemukan sekitar 20-200 ekor cacing. Infeksi kronis pada saluran empedu menyebabkan terjadinya penebalan epithel empedu sehingga dapat menyumbat saluran empedu. Pembentukan kantong-kantong pada saluran empedu dalam hati dan jaringan parenchym hati dapat merusak sel sekitarnya. Adanya infiltrasi telur cacing yang kemudian dikelilingi jaringan ikat menyebabkan penurunan fungsi hati.
Gejala asites sering ditemukan pada kasus yang berat, tetapi apakah ada hubungannya antara infeksi C. sinensis dengan asites ini masih belum dapat dipastikan. Gejala joundice (penyakit kuning) dapat terjadi, tetapi persentasinya masih rendah, hal ini mungkin disebabkan oleh obstruksi saluran empedu oleh telur cacing. Kejadian kanker hati sering dilaporkan di Jepang, hal ini perlu penelitioan lebih jauh apakah ada hubungannya dengan penyakit Clonorchiasis.
Cacing ini menyebabkan iritasi pd saluran empedu dan penebalan dinding saluran dan perubahan jaringan hati yang berupa radang sel hati.Gejala dibagi 3 stadium:
1.      Stadium ringan tidak ada gejala.
2.      Stadium progresif ditandai dengan menurunnya nafsu makan, diare, edema, dan pembesaran hati.
3.      Stadium lanjut didapatkan sindrom hipertensi portal terdiri dari pembesaran hati, edema, dan kadang-kadang menimbulkan keganasan dlm hati, dapat menyebabkan kematian.

E.     Diagnosa laboratorium Clonorchis sinensis
Diagnosa didasarkan pada isolasi feses telur Clonoschis sinensis bersama dengan adanya tanda-tanda pankreatitis atau primary. Beberapa kucing mungkin menunjukkan penyakit kuning dalam kasus-kasus lanjutan dengan parasit beban berat. Sejumlah cacing hati lain yang mempengaruhi kucing, seperti viverrini Opisthorchis , dan felineus Opisthorchis , dapat dibedakan dengan pemeriksaan miscoscopic atau yang lebih baru tes PCR.



F.     Pengobatan penyakit Clonorchiasis
Dapat diberikan klorokuin difosfat dosis 250 mg 3 kali sehari selama 6 minggu. Pengobatan ini sering gagal disertai optic neuropati, sehingga perlu dicari obat lain yang lebih baik. Praziquantel lebih efektif dan lebih aman.

G.    Pencegahan penyakit Clonorchiasis
Mengurangi sumber infeksi dengan melakukan pengobatan pada penderita. Menghindarkan penularan melalui ikan dengan  memasak sempurna, pengasinan, pendinginan atau pemberian cuka bagi ikan yang akan dimakan, selain itu diperlukan pendidikan yang berhubungan dengan sanitasi.
Pencegahan penularan cacing Clonorchis sinensis pada manusia juga dapat dilakukan dengan cara memutus rantai hidup cacing ini, meliputi :
1.       Tindakan pengendalian Industri; pembuangan ekskreta dan air limbah atau khusus kotor yang aman untuk mencegah kontaminasi pada air sungai, pengolahan air limbah untuk keperluan akua kultur, iradiasi ikan air tawar, pembekuan dingin, perlakuan panas, misalnya pengalengan.
2.      Tempat pengelolaan makanan/rumah tangga; memasak ikan air tawar sampai benar-benar matang. Konsumen harus menghindari konsumsi ikan air tawar yang mentah atau kurang matang.

Jumat, 15 November 2013

Corynebacterium Diptheriae Pathogen


CORYNEBACTERIUM
Klasifikasi
ORDO            : Eubactericeae
FAMILY        : Corynebactericeae
GENUS          : Corynebacterium
SPESIES        : Corynebacterium diptheriae
Type:
·      C. gravis
·      C. mitis
·      C. intermedius

Th 1826           Pierre Bretonneau (yg menemukan)
     1883           isolasi     Klebs dari Pseudo membran
     1884           Loffler mengisolasi biakan murni
                        “Klebs – Loffler Bacillus”
Roux & Yersin             toksin eksotoksin
MORFOLOGI
-          Batang langsing, Gram positif
-          Tidak tahan asam, spora negatif
-          Susunan = palisade (spt pagar), mirip huruf tionghoa
FISIOLOGI
-          Aerob
-          Koloni = sangat kecil, putih keabu-abuan & mengkilat
Loffler + garam tellurit yaitu :
-          mengurangi kuman pencemar
-          Warna abu2 hitam
-          Membedakan type :
      gravis : besar, abu2 sampai hitam, tumpul
      mitis : lebih kecil dari gravis, lebih hitam, mengkilat
      intermedius : sangat kecil halus atau kasar
- warna hitam = o/ ion tellurit masuk ke membran sel lalu sitoplasma            direduksi menjadi tellurium    mengendap dalam sel
-          Pada medium kaldu :
      gravis               : terbentuk selaput
      mitis                : terbentuk merata
      intermedius     : terjadi endapan
Infeksi klinik
-          1-9 th & > 15 th             penularan droplet & ulkus kulit, angka tertinggi pada musim dingin.
-          Sumber infeksi = karier / penderita pada masa inkubasi
Kekebalan
-          Imunisasi pada bayi dan anak2 pra sekolah dapat mencegah difteri.
-          Untuk melihat status kekebalan              uji Sik
Kekebalan
-          Imunisasi pada bayi dan anak2 pra sekolah dapat mencegah difteri.
-          Untuk melihat status kekebalan                   uji Sik
Gx klinik
ü  Tiba2 demam sedang, menggigil, lemah badan, nyeri tenggorokan, kelenjar leher bengkak & nyeri     bull neck (leher mirip sapi)             saluran nafas tersumbat             sesak nafas, lemas     trackeostomi
ü  Pada saraf otak = terjadi kelumpuhan palatum molle     sulit menelan
Pada saraf tepi = lemah                       kelumpuhan


Difteri kulit           terjadi didaerah tropik
lesi kulit, kronik           ulkus tdk menyebar    tertutup membran yg berwarna keabu-abuan  biasanya strain mitis
Dx Lab.
Bahan Pemeriksaan & Cara Pengambilan :
  1. Usap tenggorokan              tonsil atau faring diusap
  2. Usap hidung
Pewarnaan :
Gram   : batang Gram positif     laporkan sebagai                                                                                     laporan pendahuluan
Neisser            : batang bergranula
Pengobatan :
1. ADS (Anti difteri serum)
     Sedang = 10.000 unit - 20.000 unit IM
     Berat          = 50.000 unit – 100.000 unit IV
2. Antibiotika = penisilin, eritromisin, tetrasiklin
Pencegahan :
Imunisasi aktif dgn toksoid difteri, pertusis, tetanus (DPT)
Caranya : dasar : bulan 2, 4, 6
Ulangan : setahun dan pra sekolah